![]() |
| Alif-Dila-Desy |
Friday, October 12, 2012
Thursday, October 11, 2012
asal usul carok
Hukum
adat sebagai hukumnya rakyat indonesia dan terbesar di indonesia dengan corak
dan sifat yang beraneka ragam. Hukum adat di indonesia terdiri berbagai
lapangan hukum adat antara lain hukum adat pidana, tata negara, kekeluargaan,
perdata, perkawinan, dan waris. Keseluruhan hukum adat itu telah di atur dalam
hukum nasional indonesia. Namun sebagian besar dikalangan adat-istiadat belum
dapat diterima oleh masyarakat adat yang ada di indonesia, terlebih dalam
penyelesain konflik dalam masyarakat.
Penyelesaian konflik didalam
masyarakat khususnya madura, sering menyelesaikan di luar pengadilan /
menyelesaikan sendiri misalnya Carok
madura.
Carok dan clurik laksana dua sisi
mata uang. Satu sama lain tidak dipisahkan. Hal ini muncul dikalangan orang-orang
madura sejak zaman penjajahan belanda abad 18 M. Carok merupakan simbol
kesatria dalam memperjuangkan Harga diri ( kehormatan ).
Pada zaman cakraningrat, pada
kerajaan joko tole dan penembahan di madura, tidak mengenal budaya carok
tersebut. Budaya yang ada pada waktu itu adalah membunuh orang secara kesatria
menggunakan pedang atau keris. sejanta clurit dikenal pada zaman legenda pak
sakera. Mandor tebu dari pasuruan ini hampir tak pernah meninggalkan clurit
setiap pergi kekebun untuk mengawasi para pekerjanya. Clurit bagi sakera
merupakan simbol perlawanan rakyat jelata. Lantas
apa hubungan dengan carok? carok dalam bahasa kawi kuno artinya perkelahian. Biasanya melibatkan
dua orang atau dua keluarga besar. Bahkan antar penduduk di desa bangkalan,
sampang, pamekasan, dan sumenep. Pemicu dari carok ini berupa kedudukan di
keraton, perselingkuhan, rebut tanah, bisa juga dendam turun temurun selama
bertahun-tahun.
D. Zawawi Imron ( 1986 ), seorang
budayawan madura membagi carok menjadi dua pengertian :
·
Pertama, carok dalam
artian umum yaitu perkelahian dengan memakai senjata tajam yang disebabkan oleh
masalah-masalah biasa seperti dagangan dipasar, hutang piutang, hewan terlepas
memakan tanaman orang lain seperti yang terdapat didaerah daerah lainnya atau
bangsa lain.
·
Kedua, carok dalam
artian khusus, ialah perkelahian dengan memakai senjata tajam untuk membela dan
mempertahankan kehormatan, martabat keluarga, istri dinodai orang lain dan nama
baik keluarga serta masalah harga diri.[1]
Mulculnya budaya carok dipulau
madura bermula pada zaman penjajahan belanda, yaitu pada abad ke-18 M. Setelah
pak sakera tertangkap dan dihukum gantung di pasuruan, jawa timur, orang-orang
bawah mulai berani melakukan perlawanan pada penindas. Senjatanya adalah celurit
begitu pula saat aksi kejahatan, juga menggunakan celuruit.
Kondisi semacam itu akhirnya membuat
masyarakat jawa, kalimantan, sumatera, irian jaya, sulawesi mengecap orang
madura suka carok, kasar, sok jagoan, bersuara keras, tidak tahu sopan santun dan
kalu membunuh orang menggunakan celurit. Padahal tidak semua masyarakat madura
tidak demikian. Yang seharusnya masyarakat madura itu memilik sikap halus, tahu
sopan santun, berkata lembut, tidak suka bertengkar, dan tidak menggunakan
senjata celurit, dan sebagainya adalah dari kalangan masyarakat santri. Mereka
itu keturunan orang-orang yang zaman dahulu bertujuan melawan penjajah belanda.
Setelah sekian tahun penjajah
belanda meninggalkan pulau madura, budaya carok dan menggunakan celurit untuk
menghabisi lawannya masih tetap ada, baik itu dibangkalan, sampang, pamekasan,
maupun sumenep. Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya, tidak
menyadari bila hasil rekayasa belanda.
Madura yang selama ini dikenal
dengan watak celuritnya memang tidak bisa dipungkiri, karena bagi mereka
celurit adalah ciri khas untuk menujjukan identitas kemaduraannya. Yang menjadi
pertanyaanya benarkah carok itu merupakan suatu kebiasaan? Karena kebiasaan
yang dilakukan masyarakat adalah hukum bagi mereka walaupun tidak tertulis.
Carok merupakan bukanlah suatu
kebiasaan atau budaya struktural, carok itu terjadi akibat, ulahnya penjajahan
belanda dan minimnya pendidikan di Madura. Sebab belum tentu seorang yang
dulunya dikenal suka carok itu lebih didominasi pada masalah harga diri.
Misalnya, menyangkut soal yang sangat penting sepertinya istrinya diganggu,
carok itu terjadi kepada siapa saja. Artinya meski carok itu bukanlah tradisi
atau menganut garis keturunan, tapi kalau menyangkut harga diri, martabat,
keluarga yang dilecehkan, maka carok bisa jadi cara terbaik untuk
menyelesaikannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
